Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘abu hanif’

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Sudah kurang lebih 1 bulan saya tidak melakukan update terhadap blog mungil saya ini. Apa kabar dunia? Apa kabar teman-teman saya? Semoga Allah senantiasa merahmati saya, Anda, dan kita semua yang beriman kepada-Nya. Amin.

Dalam update pertama ini, saya akan mencoba menyuguhkan kepada Anda sekalian kumpulan murottal Syaikh Al-Qari’ Muhammad Shiddiq Al-Minsyawi berserta murid beliau. Secara mudahnya, murottal ini bisa disebut sebagai talqin Syaikh terhadap muridnya.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Mungkin sudah banyak murottal anak yang sudah kita miliki dan sering kita dengar seperti Ahmad Saud, Muhammad Thaha al Junayd atau Hasan bin Abdullah al ‘Awwad. Suara khas qari anak-anak melantunkan ayat-ayat Al Qur’an begitu lembut terdengar di telinga sehingga kita bisa mengambil manfaat dari apa yang mereka baca.

Ada satu qari yang bisa Anda dengarkan lantunannya, yaitu Mahmud Hijazi. Agak beda dengan teman-temannya tadi, iramanya terkesan datar saja namun menyayat hati. Apalagi kalau ayat yang dibawakan adalah ayat-ayat yang menceritakan keadaan alam akherat.

Silahkan download filenya gratis di bawah ini:

(lebih…)

Read Full Post »

Bismillah…..

Aku takkan banyak bicara untuk menyambut Anda semua. Ahlan wa sahlan wa marhaban ya thalabatil ilmi. Semoga Allah merahmati kita semua. Semoga Allah menolong kita semua dan juga saudara-saudara kita di Palestina yang tengah Allah uji mereka dengan cobaan berat yang pada hakikatnya adalah kepedihan umat Islam semuanya.

Mari kita doakan kebaikan untuk sauadar-saudara kita di sana. Dan jangan lupakan pula, doakan kehancuran, keburukan, dan laknat Allah atas Yahudi, musuh Allah dan rasul-Nya, serta musuh kaum muslimin seluruhnya. Ingat, bahwa doa adalah senjata kaum muslimin yang dengannya -semoga- Allah memberikan perbaikan dan kebaikan kepada kita semua, kaum muslmin di seluruh dunia. Amiin…

Berikut ini adalah link download Font Arab untuk Anda. Ana niatkan ini sebagai manifestasi dakwah, sebagai sumbangsih kepada dakwah Islam dan kaum muslimin. Tapi, ana berlepas diri dari penyalahgunaan font arab ini, seperti untuk menulis shalawat2 bid’ah, menulis kalimat-kalimat yang menyelishi sunnah, dan lain sebagainya.

Ana harap Anda semua mempergunakannya dalam kebaikan, dan semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada Anda dan kita semua untuk selalu istiqomah di atas ketaatan kepada Allah ta’ala. Amiin…

Selamat Mendownload!

(lebih…)

Read Full Post »

Bismillah…

Hari ‘Asyura di depan mata. Siapkan ilmu untuk mengahadapinya. Jangan seperti Syiah Rafidhah atau Sufiyah! Jadilah Anda seorang muslim pejuang sunnah an-nabawiyah. Selamat menyimak, semoga Allah mudahkan kita tuk mengamalkannya…

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

[Di dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura / Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)]

Hadits yang Pertama

عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).

Hadits yang Kedua

عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)

Hadits yang Ketiga

وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab, ‘Menghapuskan dosa setahun yang lalu’, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasa Arafah (yakni menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya –pent). Bersamaan dengan hal tersebut, selayaknya seorang berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan (sebelumnya, ed.) Tasu’a (9 Muharram). Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada yang kesembilan’, maksudnya berpuasa pula pada hari Tasu’a.

Penjelasan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Asyura [1] dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura –yaitu 10 Muharram- adalah hari di mana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.

Oleh karena itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura [2]. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.

Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura, dengan berpuasa pada hari kesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari kesepuluh (’Asyura), atau ketiga-tiganya. [3]

Oleh karena itu sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim dan yang selain beliau menyebutkan bahwa puasa ‘Asyura terbagi menjadi tiga keadaan:

1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.

2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama. [4]

3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh). [5]

Wallahu a’lam bish shawab.

(Sumber: Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darus Salam – Mesir, diterjemahkan Abu Umar Urwah Al-Bankawy, muraja’ah dan catatan kaki: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifai)

CATATAN KAKI:

[1] Adapun hadits yang menyebutkan perintah untuk berpuasa setelahnya (11 Asyura’) adalah dha’if (lemah). Hadits tersebut berbunyi:

صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما و بعده يوما . –

“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya. (HR. Ahmad dan Al Baihaqy. Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’ hadits no. 3506)

Dan berkata As Syaikh Al Albany – Rahimahullah- di Silsilah Ad Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Penyebutan sehari setelahnya (hari ke sebelas. pent) adalah mungkar, menyelisihi hadits Ibnu Abbas yang shahih dengan lafadz:

“لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع” .

“Jika aku hidup sampai tahun depan tentu aku akan puasa hari kesembilan”

Lihat juga kitab Zaadul Ma’ad 2/66 cet. Muassasah Ar-Risalah Th. 1423 H. dengan tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al Arna’uth.

لئن بقيت لآمرن بصيام يوم قبله أو يوم بعده . يوم عاشوراء) .-

“Kalau aku masih hidup niscaya aku perintahkan puasa sehari sebelumnya (hari Asyura) atau sehari sesudahnya” ((HR. Al Baihaqy, Berkata Al Albany di As-Silsilah Ad-Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Ini adalah hadits mungkar dengan lafadz lengkap tersebut.))

[2] Padanya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penetapan waktu pada umat terdahulu pun menggunakan bulan-bulan qamariyyah (Muharram s/d Dzulhijjah, Pent.) bukan dengan bulan-bulan ala Eropa (Jan s/d Des). Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa hari ke sepuluh dari Muharram adalah hari di mana Allah membinasakan Fir’aun dan pengikutnya dan menyelamatkan Musa dan pengikutnya. (Syarhul Mumthi’ VI.)

[3] Untuk puasa di hari kesebelas haditsnya adalah dha’if (lihat no. 1) maka – Wallaahu a’lam – cukup puasa hari ke 9 bersama hari ke 10 (ini yang afdhal) atau ke 10 saja.

Asy-Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly mengatakan bahwa, “Sebagian ahlu ilmu berpendapat bahwa menyelisihi orang Yahudi terjadi dengan puasa sebelumnya atau sesudahnya. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam,

صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما أو بعده يوما .

“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya”.

Ini adalah pendapat yang lemah, karena bersandar dengan hadits yang lemah tersebut yang pada sanadnya terdapat Ibnu Abi Laila dan ia adalah jelek hafalannya.” (Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhus Shalihin II/385. cet. IV. Th. 1423 H Dar Ibnu Jauzi)

[4] (lihat no. 3)

[5] Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,

والراجح أنه لا يكره إفراد عاشوراء.

Dan yang rajih adalah bahwa tidak dimakruhkan berpuasa ‘Asyura saja. (Syarhul Mumthi’ VI)

Wallaahu a’lam.

Sumber : http://ulama.co.nr

Read Full Post »

Bismillah…

Kabar bagus buat kawula muda, temen-temen SMA/SMK Se-Eks Karesidenan Surakarta dan sekitarnya. Di musim liburan ini, kamu-kamu diundang buat ikutan acara seru dan bermanfaat, Insya Allah. Daripada waktu liburan kamu, kamu habiskan buat sesuatu yang nggak ada manfaatnya alias sia-sia, mending ikutan acara ini. Dan temukan kesegaran hidupmu di sini!!!

Hadirilah, dengan mengharap wajah Allah semata!

(lebih…)

Read Full Post »

ayo-ngaji-lagi2Judul: Akhi… Ayo Ngaji Lagi!
Penulis: Faishal bin Su’ud Al Haliby
Penerjemah: Al Ustadz Abu Abdirrahman Abdul Aziz
Ukuran: 10×14 cm (buku saku)
Tebal: 92 halaman
Fisik: HVS 60, cover dov
Harga: Rp 9900

Betapa indahnya keadaan seorang hamba apabila imannya senantiasa terjaga. Namun bagaimana kondisinya bila iman itu terasa melemah?

Ibadah tak lagi nikmat, hati pun terasa gundah. Dulunya rajin shalat, bahkan senantiasa berjama’ah, sekarang malas. Yang dulu rajin mengaji, sekarang malah bersemangat meninggalkan majelis-majelis taklim dan tersibukkan dengan dunia. Yang dulunya sibuk menuntut ilmu, sekarang malah sibuk berkeliaran di pusat-pusat kemewahan.

Inilah futur –kelemahan semangat- yang apabila dibiarkan akan menjadi penyakit kronis yang bisa menjauhkan seseorang dari kebenaran.

Apa saja indikasi futur? Apa saja faktor-faktor yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam jurang futur? Tindakan apa yang semestinya diambil oleh seseorang ketika kelemahan semangat itu datang?

Dapatkan jawabannya dalam buku ini! Kecil dan ringkas, namun semoga dapat menjadi solusi untuk menyelamatkan diri kita dari penyakit futur. Bahkan lebih dari itu, dengan memberikannya kepada ikhwan yang menjauh dari majelis ilmu atau futur, Anda telah membantu mengajak kembali ke jalan sunnah. Akhi, Ayo Ngaji lagi!
sumber : http://www.al-husna.com

Read Full Post »

Bismillah…
Anda, saya, dan sebagian besar kita pasti pernah atau bahkan sering
menggunakan program text editor dari Windows, yatu NotePad. Tapi, pada saat kita mengetik atau bahkan membuka file dengan NotePad tersebut, sering kita jumpai teks yang kita tuliskan atau ada pada notepad tersebut memanjang ke samping. Masih mending kalo cuma beberapa kata saja. Nah, kalau itu satu paragaraf, atau bahkan suatu artikel? Betapa panjangnya!!!!
notepad-g-rapi
(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »