
Sebuah rumah sederhana, berdinding bata, beratapkan genteng tanah liat, berpintukan kayu pohon nangka, dan memiliki halaman hijau nan asri, nampaknya bukan sebuah impian muluk bagiku dan bagi ibuku. Sebuah rumah, yang bisa kami gunakan untuk berteduh dari teriknya panas matahari dan derasnya hujan. Sebuah rumah yang bisa kami gunakan sebagai tempat berbagi hati dan rasa, aku dan ibuku. Tak heran jika ibuku selalu berkata kepadaku, “Per, kapan ya awake dheweki dhuwe omah dhewe? Ra ketung cilik, tapi ayem, tentrem nang omahe dhewe…” (Per, kapan ya kita punya rumah sendiri. Meskipun cuma kecil, tapi nyaman dan tentram di rumah sendiri…”
Aku sering menangis dalam hati mendengar harapan ibuku itu, yang entah telah berapa banyak beliau utarakan maksud hatinya itu padaku. Bukan sebuah rengekan yang menyebalkan, aku kira. Sudah pantas dan aku rasa itu wajar. Aku dan ibuku memang tak punya rumah sendiri. Setelah kakekku (dari pihak ibu) meninggal, ibuku tak memperoleh bagian warisan kecuali hanya sepetak sawah kecil yang pengelolaannya pun dipegang oleh paklik dan pakdhe-ku. Itu pun masih digilir pengolahannya.
Ibuku, motivator terbesar dalam hidupku. Bayangkan, dalam usiaku yang masih kecil, waktu itu mungkin kelas 4 SD, ia telah merantau ke Malaysia (Alhamdulillah nggak kenapa-kenapa, meski juga menyimpan banyak pcerita duka di sana) sebagai buruh pabrik kayu di negeri orang itu. Untuk apa? Untuk menyekolahkan aku, harapnya. Ia tak ingin aku menjadi sepertinya. Ia ingin aku jadi anak yang pintar, yang bisa menghadiahkan baginya rasa bangga dan rasa bahagia memiliki putra seperti aku.
Pulang dari sana, ibuku kembali merantau ke Jogja, bukan sebagai orang berpunya. Tapi, lagi-lagi sebagai seorang buruh, pembantu rumah tangga dari sanak saudara ibuku juga. Menjadi pembantu di keluarga budheku selama 6 tahun dan mampu menyekolahkan aku hingga SMA. Sebuah perjuangan seorang ibu yang luar biasa, setelah ayahku (semoga Allah mengampuni dan menunjukinya ke jalan hidayah) meninggalkankan aku dan ibuku dengan begitu saja saat umurku masih 3 tahunan. Dan di sana pun ibuku masih berharap, suatu saat ia tak lagi ikut orang. Ia capek, bosan, dan suntuk. Ia ingin istirahat, apalagi badannya yang mulai melemah dengan seiring bertambahnya usia. Ia ingin punya sebuah rumah, meskipun kecil, tapi hatinya tenang, hidup di rumah sendiri bersama anaknya semata wayang ini, bisa beristirahat, bekerja semampunya sesuai yang Allah mudahkan baginya.
Kini, saat aku hendak kuliah, ibuku sudah pindah, bukan ke rumah sendiri, tapi di rumah budheku yang lain. Masih sama dengan pekerjaannya seperti dulu. Sebagai pembantu. Meskipun begitu, ada dua hal yang membuatku bangga padanya dan banyak belajar darinya. Pertama, aku kagumi sifat kejujurannya yang begitu mulia. Dan yang kedua, sifat menjaga harga diri yang begitu besar, yang selalu ia tanamkan padaku.
Ibuku kembali berharap, suatu saat nanti punya rumah, meski hanya kecil, tapi nyaman dan tentram….
Aku sedih melihat kondisi ibuku, mungkin sudah 10 tahun lebih ia tak merasakan nyamannya tinggal di rumah sendiri. Pulang ke rumah simbah di Magelang pun, hanya numpang. Bukan rumah kami. Itu rumah paklik dan pakdhe kami. Meski di kampung sendiri, tapi bukan rumah sendiri, rasanya masih lain. Mungkin itu yang membuat ibuku kembali besar harapannya padaku, anak semata wayangnya. Aku dan ibuku sering merasa iri melihat orang lain yang punya rumah sendiri, hidup tenang bersama anak-anaknya, keluarganya, dan sanak famili. Suatu saat nanti, Insya Allah….
Aku tidak jadi satu tempat tinggal dengan ibuku. Ibuku di rumah budheku, sedangkan sekarang aku tinggal di kantor tempatku bekerja. Alhamdulillah pikirku. Meski bukan rumah sendiri, masih bisa ‘nunut ngeyup’ (numpang berteduh). Tapi, jika mengingat harapan besar yang sering ibuku sampaikan kepadaku sebagai anaknya, aku pun bertekad besar untuk mewujudkan impiannya. Impian seorang ibu yang telah mendidikku dengan kasih sayang dan kelembutan, serta kejujuran yang aku banyak belajar darinya.
Betapa indahnya dan memang benar kata orang, rumahku surgaku. Suatu saat, aku berharap bisa mengatakan itu pada ibuku, di rumah kami yang baru, “Ummi, rumah kita, surga kita.”
Akan aku buktikan padanya bahwa aku adalah anaknya yang berbakti yang bisa mewujudkan impian dan harapannya, memiliki rumah sendiri, tempat berbagi rasa dan hati. Yang menghiasi hari-hari kami. Yang di dalamnya dihiasi dengan rasa cinta dan rasa bakti. Yang di dalamnya dipenuhi dengan cahaya kasih sayang di antara kami, karena Allah dan di jalan Allah. Sebagai wujud bakti kepada orangtua. Yang di dalamnya terpancar rona kebahagiaan yang sejati, yang suatu saat nanti ibuku akan berkata kepadaku, “Per, alhamdulillah sekarang kita punya rumah sendiri.”

Aku ingin mengimpikan sebuah rumah mungil di tengah desa yang sejuk nan asri, di tengah masyarakat yang berbudi lagi baik hati, yang membuat hatiku dan hati ibuku berseri. Aku ingin suatu hari nanti mempunyai rumah yang di dalamnya selalu ramai dengan dzikir kepada Allah, saling menasehati antara aku dan ibuku, bahkan hingga aku memiliki seorang bidadari yang Allah karuniakan untukku, juga putra-putriku yang manis dan lucu, sekaligus cucu yang lucu dan imut bagi ibuku. Rumahku, surgaku, semoga yang terbaik nanti yang ‘kan Allah anugerakan untukku. Dan aku tak mau hanya bermimpi di malam hari dan siang hari. Mimpi akan hanya menjadi mimpi jika kakiku tak segera ku langkahkan pergi, mengejar cita-cita dan harapan besar ibuku, rumah mungil, sederhana, asri dan mendapatkan barokah serta ridho Ilahi.
Amin ya Allah, Rabbal ‘Alamin…









oalaaahh ya ALLAH.. ternyata artikel ini buat ikutan lomba blog yah? baru sadar sat ada link-nya…..
teganya dirimu,nif…hehehehe
@Nick : kok tega? maksud antum? Itu memang curahan hati yang sudah lama ingin ana tulis, qaddarallah kok ya pas nemu lomba blog ttg rumah,ya sekalian sajalah….
Barokallohu fiikum…
“nyiduk sego sak wakule”?!
SEMOGA CITA2NYA TERCAPAI
Bismillah
Kawan, aku terharu membaca ceritamu, jika saja di ruangan ini tidak ada temen kerja, mungkin mejaku ini sudah banjir.
Aku bangga dengan ibumu, semoga Allah Ta’ala selalu memberinya kesehatan. Berjuang untuk dirimu sehingga engkau bisa seperti sekarang ini, hanya berkat kerja keras ibumu setelah karunia dari Allah Ta’ala.
Sebegitu hebat perjuangannya demi sebuah harapan tulus agar engkau tidak menjadi seperti dia.
Nasihatku untukmu, kawan, bahagiakanlah dia, jangan membuatnya menangis. Jika engkau mengetahui bahwa harapannya adalah ia ingin punya rumah sendiri, maka berusahalah keras untuk engkau membelikannya rumah, meskipun kecil. Betapa bahagianya kita ketika nanti ibu kita mengucapkan, “Per, Alhamdulillah awake dheweki dhuwe omah dhewe. Ra ketung cilik, tapi ayem, tentrem nang omahe dhewe…”
Semoga Allah Rabbul Izzati mengabulkan doamu, kawan, dan memberikan engkau kesehatan dan rizki yang berkah sehingga bisa mewujudkan impian ibu, bisa istirahat di rumah sendiri dan engkaupun menjadi orang yang sukses seperti harapannya dan ia tidak perlu lagi bekerja di rumah orang.
Barokallahu fiikum (semoga Allah Ta’ala memberkahi kalian berdua)
Saudaramu di Cikarang-Bekasi
Abu Harun As Salafy
Makasih mas,,,,,
Semoga bisa terwujud dan dimudahkan sama Allah…
Karunia apapun yang diberikan Allah wajib kita syukuri. Saudaraku.. sebenernya kisah ini tak jauh beda dengan kisah sy.
Ibu sy sebenernya mendpt bagian rumah & tanah, tp beliau malah lebih bahagia tinggal di gubug bambu, di tanah milik orang (dan siap diusir kapanpun).
Karena apa ? Karena beliau ingin bahagia
Sy pun lebih bahagia tinggal di gubug tsb (kalo pulang selalu kesitu, tidur disitu, makan disitu, sangat jarang pulang ke rmh yg lama)
Karena apa ? Karena sy bahagia tinggal bersama mereka (ibu & adikku)
Dengan ini, kami (khususnya sy) berkomitmen, berusaha mencari rizki dengan keringat kami, dengan usaha kami.
Berharap dapat membangun istana kami sendiri, bukan pemberian orang lain (warisan).
Inilah yang sumber semangat dalam hidup saya, dan saya akan buktikan.
Tetap semangat saudaraku..
Semoga impian ibu segera terwujud ya.. terharu baca ceritanya..
Bismillah.Semoga Alloh mengabulkan doa antum.Amiin
Bahagiakanlah ibumu selagi ia msh ada,krn ibu ana skr sdh meninggal.
Barokallahu fiik
setiap orang memiliki rumah idaman masing-masing. meskipun saya pun memiliki impian yang muluk dengan rumah yang besar dan mewah full teknologi. dimana semua perangkat terhubung ke komputer dan internet. tapi ya sekedar khayalan. yang terpenting bagi saya rumah itu nyaman dan sehat untuk ditempati sekeluarga. keluarga kecil, bahagia dan cukup lahir batin itu saja.
oia ditunggu komentar berkualitasnya juga dalam tulisan ‘Rumah Impian…’.cheers..
terharu bos..
semoga menang yah n_n
Bismillah
Hidup ini tidak lepas dari tiga keadaan, jika seseorang mendapat nikmat kewajiban dia bersyukur, jika seseorang mendapat coba’an kewajiban dia bershabar, jika terjatuh dalam perbuatan maksiat kewajiban dia bertaubat.
Akhi fillah sebuah kenikmatan bagi kita ketika orang tua kita masih hidup, bisa menatapnya, bisa mencium keningya, bisa mengarahkannya kepada kebaikkan, maka wajib kita syukuri, begitu juga apa yang antum alami sebuah cobaa’an dengan sesuatu membuat antum sedih kewajiban antum bershabar, semoga Allah memberikan kepadamu dan ibumu rumah didunia dan disurga. Allah Maha Luas Karunianya. Dan semoga Allah menolong kita untuk bisa berbakti kepada orang tua