Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Kawan, pernahkah engkau melihat sekuntum bunga di pojokan sebuah taman kota yang tertata rapi, indah, dan sejuka? Atau, pernahkan engkau melihat sepucuk bunga melati di sebuah taman milik ibumu? Pernahkah engkau mengamati bunga-bunga bermekaran itu? Indah, bukan? Baunya harum, warnanya mempesona siapa saja yang melihatnya, dan sangat menetramkan jiwa…
Tapi, saat bunga-bunga itu layu, coba kau perhatikan mereka. Warnanya tak semenarik dan seindah saat pertama kali kau melihatnya, apalagi baunya, tak semerbak dulu, bahkan menjadi busuk dan menusuk hidung. Pokoknya, bunga itu menjadi bunga paling buruk yang pernah ada, saat dia menjadi layu…
Begitulah manusia. Suatu saat, mereka akan bermekaran, menghijau, dan bersemenagat dalam hidup. Kepala mereka tegak dan siap menjalani kehidupan hari ini, esok, dan esoknya lagi. Kaki-kaki meraka terpancang kuat berpijak ke bumi, siap menghadapi kerasnya hidup yang ‘kan mereka jalani. Sorot mata yang tajam dan penuh semangat menemani mereka melihat peluang dan kesempatan untuk meraih berbagai manfaat kehidupan. Semangat, penuh gairah hidup, itulah saat-saat di mana semua permasalahan kan dengan mudah dihadapi. Seolah tak ada satu pun masalah yang mampu menyurutkan nyali dan semangatnya, itulah hidup!
Hidup ini bukan sesuatu yang konstan dan statis. Hidup ini dinamis, selalu ada yang berubah, mengalami rotasi kehidupan. Dan sudah menjadi ketetapan dari Allah, Rabb Pengatur segala urusan manusia, bahwa Dia menciptakan semua hal di dunia ini dengan berpasang-pasangan dan adanya sesuatu yang menjadi lawan balik dari sesuatu yang lain. Coba saja kau lihat api, dia punya pasangan air sebagai lawannya. Saat kini kau rasakan bahagia, suatu saat nanti rasa sedih akan menimpamu. Kini, mungkin engkau sedang kenyang, tapi beberapa jam ke depan, rasa lapar akan engkau rasakan. Di tempatmu, engkau rasakan berbagai fasilitas dari kekayaanmu, tapi coba kau lihat lewat fasilitas internetmu, di belahan bumi lain ada saudaramu yang sedang ditimpa kemiskinan (atau mungkin ternyata kemiskinan itu berada persis di belakang rumah megah yang kau tempati?!) Itulah sunnatullah, takkan ada yang mampu merubah ketetapan ini, selain Allah.
Kawan, tadi kusebutkan gambaran hidup penuh semangat, ibarat bunga segar yang sedang tumbuh subur bermekaran di taman kota. Sekarang akan aku ceritakan kepadamu tentang sebuah keadaan yang sedang aku alami, semoga Allah menjauhkan dirimu dari yang semisal ini.
Rasa futur, suatu rasa di mana engkau mengalami penurunan semangat dalam beragama, lemah semangat dalam menjalani ibadah kepada Allah Yang Maha Esa. Suatu keadaan kritis di mana ragamu sehat tapi batinmu sakit. Suatu keadaan di mana bibimu tersenyum ceria tapi hatimu menangis merintih. Suatu keadaan parah di mana ragamu di masjid tapi hatimu entah pergi ke mana? Pandangan matamu kosong, tubuhmu layu, hatimu kacau tak menentu, semuanya terasa aneh.
Inilah rasa itu. ARRRGGGGGHHHHH. Astaghfirullahal ‘azhiim….
Coba kau bayangkan, kawan. Saat-saat seperti itu datang kepadamu, lalu memakan habis apa yang ada di dadamu. Tidak tersisa di hatimu kecuali hanya satu rasa, FUTUR. Kalau aku boleh memilih, seandainya saja aku jadi pasir kali…. Atau jadi salah satu bagian dari mata air sungai…
Sakit gigi, masih bisa kutahan sakitnya. Lapar pun, aku masih kuat menahannya. Bahkan demam pun, Insya Allah lebih ringan bagiku. Tapi, sakit hati, futur, bukan penyakit sepele, kawan. Ini penyakit akut, bahkan lebih mengerikan dari flu babi dan penyakit AIDS sekalipun. Ibarat penyakit paru-paru, mungkin sudah stadium 4, bahkan mungkin kalau ada, stadium 10.
Aku bukan mau mengeluh padamu, kawan. Bukan pula aku ingin mempertontonkan rasa ini secara gratis kemudian kalian memberikan tepukan tangan atau lemparan koin kepadaku. bahkan bukan maksudku ingin berbangga dengan dosa yang aku alami dan aku lakukan. Aku hanya ingin berbagi rasa, menuliskan apa yang memenuhi pikiranku, membuat otakmu meluap-luap dan mendidih, saking pusingnya aku memikirkan bagaimana caranya agar aku SEMBUH. Aku ingin engkau tahu bahwa penyakit futur itu BUKAN PENYAKIT RINGAN semisal batuk dan panu. Bukan! Aku ingin kau tahu bahwa penyakit ini BERBAHAYA dan bisa menjangkiti siapa saja, tak terkecuali dirimu. Ikhwan Sunni yang sudah lama ngaji Salaf. Ikhwan Sunni yang sudah 2, 3, 4, bahkan 10 tahun kenal dakwah.
Ketahuilah, kawan…
Rasa futur itu, bukan semata engkau meninggalkan kajian secara total. Yang aku rasa, aku tetap saja datang kajian, pulang pergi ke majelis ilmu, berharap agar aku bisa SEMBUH. Tapi, entah kenapa, wallahu a’lam, hal itu tak cukup mampu membuatku berangsur sembuh. Futur, bisa berwujud kerasnya hati menerima nasehat. Pernahkah kau alami, satu minggu kau datangi kajian, nasehat yang datang dari Ustadz ke telingamu tak cukup mampu ‘tinggal barang sebentar’ di hatimu? Engkau hanya mampu menangkap Khutbatul Haajah saja. Itupun lafzhiyyah saja…
Pernahkah engkau mengalaminya, kawan? Semoga tidak….
Alhamdulillah Allah masih cukup baik terhadap seorang hamba semacamku ini. Masih bersyukur aku tidak dijauhkan dari kajian Salaf secara total. Masih bersyukur aku masih kenal dengan Ustadz Abdul Mu’thi, masih beruntung aku tetap bisa duduk bersama beliau di Masjid Al-Hasanah atau Masjid Al-Anshar, meski aku heran, kenapa rasa itu tak kunjung hilang. Alhamdulillah aku masih bisa bergaul dengan Mas Miftah, Pak Muchlisin, Abu Ishaq, masih sering dapat taujih dari Mas Wira, masih sering bertemu dengan ikhwan PAKIS; Akh Barkah, Faris, Hadi, Mas Anam, Abu Farhan, dan sekian banyak ikhwan Sunni -hafizhahumullahu jami’an-.
Aku sadar, kawan, kejujuran adalah kunci kesembuhan dari itu semua, setelah doa dan tawakal kepada Allah. Dan itulah yang susah, berlaku jujur kepada Allah. Ketika rasa futur ini terus menghantuiku, aku sadar bahwa bukan menjadi legalitas bagiku untuk berputus asa dari rahmat Allah. Bukan menjadi legalitas bagiku untuk kemudian benar-benar menjauh secara totalitas dari majelis ilmu. Aku sadar, meski tertatih-tatih, bahwa hidup kita adalah hari ini, bukan hari yang telah lalu. Kehidupan milikku, adalah apa yang Allah berikan untukku hari ini, dan hari di mana aku masih hidup, itulah hariku, itulah hidup yang mesti aku jalani. Dan aku yakin, bahwa suatu saat nanti, rasa ini akan hilang, semoga Allah membenarkan ucapanku.
Kawan, aku mohon uluran tangan persahabatanmu, ucapan lembut dari kedua bibirmu, serta jabatan tangan yang hangat darimu, serta senyum simpul yang manis yang biasa kau lakukan untukku.Terlebih, aku mohon selaksa doa tulus darimu, agar Allah lekas menyembuhkanku dari sakit ini, semenjak 2 tahun yang lalu…
اللهم أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك او أنزلته في كتابك او علمته أحدا من خلقك او استأثرت في علم الغيب عندك أن تجعل القرآن العظيم ربيع قلبي ونور صدري و جلأ خزني و ذهاب غمي
========================
Semoga Hanif lekas sembuh dari sakitnya dan kembali ceria dengan keceriaan sebenarnya, seperti dulu saat awal kita ngaji, saat awal kita kenal dakwah ini, saat pertama kali kita memakai gamis biru itu…









Bismillaah.
Bilakah malam telah datang,
Tentulah pagi yang kita nanti.
Bilakah hati sedang sakit,
Tentu penawar yang kita butuh.
Ya Robbul ‘Alamien
Bantulah diri-diri kami,
bantulah jiwa kami
Keluar dari keengganan ini.
Ya Ghoffar,
Ampunilah semua kesalahan ini.
Tolong dan tunjukilah jalan ini.
Hidupkanlah pelita dalam diri ini
Sebagaimana Engkau hidupkan
Dengan mengenal dakwah ini
Barokallohu fikum
Bismillah,
Menikahlah kawan. Sehingga engkau bisa menceritakan segalanya pada istrimu dan belaian tangannya bisa mengobatimu meskipun ia tidak mengucapkan sepatah katapun.
Barokallahu fiik.
bismillah,
nulis yang asyik2 gitu loh akh,
yang layu-layu gak usah di expose cukup di bawa ke tabib aja,
tips menghadapi gejala-gejala “flu babi” /’futur’
(sebelum terlanjur menjadi ‘b—’ beneran ..)
- menjauhi perkara yang ‘menyakiti hati’ (baik melalui media mata, telinga, pergaulan, internet dll dari perkara2 yang haram)
- puasa jika memang masih bujang dan belum siap nikah, (menikah untuk mengobati futur sepertinya kok ngga pas, karena justru menikah itu butuh “power” ilmu dan iman yang lebih baik guna mengawali rumahtangga baru)
- memperbanyak amal sholeh, silaturahim ke orang tua dan mengungkapkan bakti kepada beliau, sanak saudara, menziarahi teman lama, menengok diantara kaum muslimin yang sedang sakit, bersedekah kepada fuqara, dll
- memperbanyak taubat dan memohon kepada Allah untuk di sembuhkan
- serta banyak cara syari lainnya yang telah diajarkan oleh para ulama ..
allahua’lam
Assalaamu’alaykum y akhy? La’allakum bi khair
“Setiap amalan ada masa semangatnya, dan masa semangat ada masa jenuhnya. Barangsiapa kejenuhannya dipalingkan kepada sunnahku berarti dia telah berbahagia, dan barangsiapa yang kejenuhannya tidak membawa dia kepada yang demikian maka dia telah binasa.” (HR Ahmad)
Mungkin antum butuh refreshing akh, penyegaran pikiran. Dl ana wkt mengalami keadaan yg spt it, ana sm akh barkah ziaroh ke ma’hadny Ust Qomar Su’aidi, alhamdulillah di sana mendapat penyegaran jasmani dan rohani. Kmrn ana sm akh barkah rencana mau k ma’hadny Ust Luqman tp qoddarulloh nggak jd, mgkn bsk kl jadi brg2 sm antm jg akh.
Allohumma mushorrifal qulub, shorrif quluubana ‘ala thoo’atik
baiklah ana mau brbagi jg nih, ana juga prnah mrasakn bahkan masih sperti yang antm utarakn.
hny mau brbagi nh……..
ana br dpt jg ilmunya stlh ngobrol2 dg sdr ssama salafiyin, katanya : silaturrahim sm salafiyyin jgn putus terutama sm yg sholih lh, kan bisa diambil ibroh atau smangatnya dari prngalamna atau cerita2nya atau dr ilmunya
hal ini mngkn ana mmg kurang krn secara..ana sibuk kuliah dn byk2 fikir pjng saat ini kalau hrs mnceritakn ssuatu ke org lain krn dri pengalamn sulit skali mnemukn org yg dpercaya,alhamdulillah ana pny adik yg ngaji jg yg bs ana prcaya buat curhat.Kul medical faculty, ga dari segi waktu aj yg trsita tpi cobaan di dalamnya itu, pelajarannya yang mnuntut mcm2 dr segi etika;pakaian;ikhtilath;praktek;prgaulan , intinya yg mbuat ana mnurun krn trsibukkn dg dunia, secara.. keluar kul blm berani sm ortu.
tpi an brusaha ttap ta’lim dn brtahan, ana stuju sm sarannnya abu salman, dulu waktu awal2 kuliah masih bisa kalau liburn mondok ikut blajar sm santri tpi skarang an sibuk ikut PAT klo liburn, wktu mondok kilat-jujur ada perubahan dr segi iman dn amaln,ana brharap cepat lulus baru nikaahhh, he2, doakn ya sobat biar ana cepat lulus kuliah, klo buru2 nikah tp kurang ilmu takutnya malaah tambah berat kecuali darurot bgt ya…he2…alias kagak bisa naahan,wallohu a’lam.
ada kata2 bagus ni br ana dapat, bgus mnurut ana sh, ga tau klo mnrt antm:
untk mprjuangkn iman kykny bgus bgt, katanya kyk gini:
jangn prnah menyerah
klo kmu brhenti saat ini, kita g akn prnh tau apa yg akn trjadi nnt
an trs brjuang smpai di suatu titk dmn stagnant dsitu dn tdk bs mju lg, tdk putus asa dr rhmtNYA, saat ini hny it yg bs an lakukn mhadapi sekularitas kmpus dg praturnny, an brharap ALLOH ttap mrahmati dn mnjaga ana
pnyesalan ga da gunanya klau hanya mbuat putus asa, mnyesal mngkn kata2 yg bs sdkit mgambarkn hati ana saat ini ktk hidup tak mampu mngalahkn waktu,keledai sj tak mau terjatuh untk keduua kalinya tp knp diri ini mbuat ksalahn yg sama brulang kali, tp toh ga ada gunany mratapiny krn itu sdh trjadi, qoddarulloh wa maa sya’afa’al(kata2 ini yg ckp mmulihkn hati ana)
itu sdkit curhat ana, mngkn bs diambil hikmahnya
Bismillah. Assalaamu’alayk.
Semoga ALLAH senantiasa menjagamu…
ALLAH itu Maha Indah, menyukai keindahan
Yakinilah…
Semua Taqdir Allah itu Indah…
Naik turunnya iman seseorang itu pasti punya hikmah…
Namun terkadang otak yang terbatas ini tidak mampu meraihnya..
Selama engkau yakin ALLAH itu Ada…
engkau yakin ALLAH itu Maha Pengampun..
engkau yakin Adzab ALLAH itu pedih…
engkau yakin ALLAH itu ADA
engkau yakin ALLAH itu ADA
engkau yakin ALLAH itu ADA
engkau yakin ALLAH itu ADA
engkau yakin ALLAH itu ADA
Ana juga terkadang mengalami hal seperti itu…
sama akibat perkara dunia, fakultas kedokteran…
Tapi ana sadar, jalan hidup ana pasti ada hikmahnya
ALLAH tidak mungkin berbuat yang sia-sia…
Ana futur pun pasti ada hikmahnya…
Terkadang apa yang kita rasakan saat futur itu…
Menjadi sebuah tunas yang melahirkan semangat baru…
Menjadi sebuah semangat untuk terus memperbaiki diri…
karena kita tahu futur itu pedih…
Rasa futur itu, terkadang mengajarkan kita untuk lebih bersyukur…
Lebih merasakan manisnya iman…
Karena rasa kita ketika futur mengajarkan kita sebuah perbedaan..
Manisnya iman dan gelapnya maksiat…
Akhy.., semoga ALLAH menjaga ana, antum, dan seluruh kaum muslimin…
Bersyukurlah pada setiap keadaanmu…
Keluhkanlah ia pada Rabb ‘Arsy yang agung…
Serahkan masalahmu padaNya
Karena ALLAH itu ADA, Dia yang telah menetapkan taqdirmu, dan Dia yang punya solusi dari permasalahanmu…
Bersyukurlah karena engkau masih punya rasa untuk ingin memperbaiki diri…
Bersyukurlah karena engkau masih bisa menghadiri majelis ilmu
Bersyukurlah karena engkau masih yakin ALLAH itu ada…
Berusahalah dan jangan lemah untuk meraih yang bermanfaat bagimu…
Mintalah pada ALLAH, agar Dia memperbaiki urusanmu…
once more…
bout nikah…. it’s no problem..
Selama antum memenuhi syaratnya…
MAMPU dari segi mental dan fisik…
terkadang kita butuh “teman” untuk bisa saling menasihati…
Istikhoroh dan bermusyawarahlah dalam perkara ini…
Toh, nikah is syari’ah, right?
Dia memang punya ketentuan, tapi jika memang sudah mampu, why not?
Remember, these days…. you must always see fitnah… whereever, whenever…
Look for u’r way akhy…
SEMANGAT!
Assalaamu’alaikum..
salam kenal dari ana, ikhwan kebumen, tetap semangat menjalani manhaj ini, semoga Alloh selalu memudahkan jalan kita, Amin.
[...] dan Hanif pun kini layu… [...]