Bismillah…
Nama pemberian orangtuaku adalah Pery Oktriansyah. Terlahir normal dengan berat 3,5 kg. Kini sudah tumbuh dewasa karena sebab kasih sayang ibuku yang membesarkanku sendirian -single parent-, setelah pertolongan Allah. Nama itu tak pernah aku tahu artinya. Entahlah, aku pun tak terlalu nafsu untuk mengetahuinya. Dan yang aku tahu bahwa nama ‘Pery’ [sebetulnya double huruf R, tapi salah tulis di akte, akhirnya kebawa sampai sekarang] adalah nama yang banyak dipakai oleh orang-orang Eropa, orang-orang kafir Barat.
Ketika awal aku mengenal dakwah ahlus sunnah, saat itu aku ngaji dengan Abu Faqih -semoga Allah mengembalikan beliau ke jalan petunjuk- membahas kitab Ushul Tsalatsah yang disyarah oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Sampailah pembahasan tentang al-wala’ (rasa cinta atau loyal) dan al-bara’ (rasa benci) terhadap orang-orang kafir, yang mana salah satu bentuk sikap loyal kita terhadap mereka adalah nyaman memberi nama diri-diri kita dengan nama-nama kafir mereka. Dan namaku termasuk nama yang mengadopsi nama-nama orang kafir. HIks…
Nah, pada pertemuan berikutnya, aku bilang ke beliau -hadahullah- bahwa mulai sekarang panggil aku dengan nama kunyahku, yaitu Abu Hanif. Dan aku belum memakai nama hijrah, belum terpikirkan. Dan baru sekarang ini aku memutuskan bahwa nama hijrahku adalah Hanif. Jadi, panggil aku Hanif Abu Hanif.
Lantas, kenapa aku memilih nama kunyah ABu Hanif dan nama hijrah Hanif?
Aku memilihnya karena pada dasarnya aku adalah orang yang mudah sekali tergoda dengan nafsuku, terutama nafsu syahwatku. Dan aku termasuk orang yang susah sekali untuk bersabar, karena darah asliku adalah keturunan Sumatera (umumnya berwatak keras dan emosional). Nah, aku ingin agar aku menjadi orang yang bisa lebih condong kepada Allah, condong kepada menaati Allah dan Rasul-Nya. Aku ingin pula menjadi orang yang berjalan secara lurus dalam Islam ini, dalam hidupku ini. Aku tidak mau tersesat dengan berbelok ke kanan maupun ke kiri, yang mana di setiap jalan itu ada banyak setan yang siap menjerumuskan aku. Aku juga ingin agar aku bisa terus berada di atas millah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang disifati dengan Al-Hanifiyyah. Maka dari itu aku memilih Hanif dan Abu hanif sebagai nama hijrah dan nama kunyahku.
Semoga keinginanku tak hanya sekedar angan-angan kosong belaka, tak hanya sekedar isapan jempol semata. Aku ingin namaku mencerminkan diriku. Bukankah nama adalah doa? Dan bukankah nama itu memiliki arti? Dan aku berharap apa yang aku impikan itu benar-benar bisa terwujud dalam hidupku, setidaknya dengan sekuat apa yang aku mampu. Salahkah jika aku punya impian untuk jadi bagian dari Al-Hanifiyyah-nya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam? Salahkah jika aku ingin hidup lurus? Semoga saja tidak, dan aku berharap Allah membenarkan keinginanku…
Dan aku mohon, panggil aku Hanif Abu Hanif, sekiranya itu adalah doa kalian untukku, agar aku bisa jadi orang yang lurus. Amiin…










oooh gitu…ana baru tahu, akh…
barakallaahu Fiykum………..
hanif: wafiikum barakallah
Pery adalah nama yang banyak dipakai oleh orang-orang Eropa dan Paiman adalah nama yang banyak dipakai oleh orang-orang Jawa. Kalo di rumah ana biasa dipanggil Iman. Nama Iman lebih familiar bagi orang2 yang dekat dengan ana. Dari mulai keluarga di Banten, Jakarta, Surabaya, Cirebon, dan Klaten, aku lebih dikenal dengan nama Iman. Tapi kalau di kampus orang-orang memanggilku dengan lengkap, yakni Paiman. Kalo antum sekarang pake nama Hanif Abu Hanif, maka ana juga ikut2an jadi Iman Abu Iman. Hehehe… boleh, gak?
hehehe
Wallahu a’lam. Insya Allah boleh. Dan sudah selayaknya bagi kita untuk lebih mencintai sesuatu yang ‘berbau’ Islam drpd berbau ‘barat’…
Khair Insya Allah
Allahummahdinaa ilaa sabilika, ya Allah…
Assalamu’alaikum ya abu hanif, al hanif insya alloh, smoga ant istiqomah diatas manhaj salaf ini,.! Nama ana dr kecil thomas, dan ustadz ana ust. Abu haedar assundawy (smoga alloh selalu menerangi jalannya) ngasih nama ana zaki, muhammad zaki, itu waktu ana hijrah ke agama yg terang benderang ini, al islam…! Smoga kita selalu dikuatkan oleh Alloh untk berdiri diatas agama ini dan diatas sunnah sampai Dia ,Robbul alamin menutup lmbaran hidup kita…
masya Allah…
jayyid jiddan!
Assalaamu’alaykum..
Akhi, permasalahan tasyabuh atau meniru2 gaya hidup orang kafir, terutama kafir barat, tentunya bukan hanya pada masalah NAMA.
Hal yang patut menjadi perhatian bagi kita para penuntut ilmu adalah masalah berpakaian. Tentunya sering kita lihat betapa banyak kaum muslimin yang enjoy berpakain ala kuffar. Dan lebih mengherankan lagi, ada dianatara kaum muslimin yang dia itu penuntut ilmu dan mengaku di atas manhaj salaf, akan tetapi dia meremehkan masalah berpakaian.
Dipagi hari dia berangkat kuliah atau kerja dengan pakai pantalon dan kemeja/kaos.di waktu sholat tetap saja dia pakai pantalon dan kemeja/kaos. Dimalam hari di juga pake pantalon dan kemeja/kaos. Waktu sholat, masih saja dia enjoy pake pantalon dan kemeja/kaos. Bahkan tak segan2 dia pake kemeja atau pantalon dengan dimasukkan kedalam pantalonnya. Padahal sudah kita maklumi bersama bahwa pantalon yang ada beredar bukanlah pantalon yang lebar, luas dan lapang, akan tetapi pantalon yang ukurannya pas2an saja. Bahkan tidak segan2 watu dia pergi taklim, masih saja pantalon dan kemeja yang dia pake. Paling POL dia pake pantalon dan koko. Bahkan waktu persiapan suatu dauroh, masih saja dia pake pantalon dan kaos oblong.
Padahal sudah 2,3,4,…tahun dia ngaji Salaf. Tak terpikir dibenaknya untuk membeli dan memakai baju gamis atau jubah, atau sekedar memakai tambahan sarung ketika dia hendak sholat. Kebiasaan pantalon yang membuat dia enggan untuk memakai gamis atau jubah atau tambahan sarung, padahal dia adalah seorang yang insya Allaah mempunyai harta yang lebih untuk sekedar membeli gamis atau jubah.
Suatu pemandangan yang sangat menyedihkan karena mereka adalah orang2 yang katanya ngaji salaf. Bahkan mereka kalah dari bapak2 dari kalangan orang2 awam tatkala pergi sholat. Bapak2 ini, mereka sholat pakai koko, pakai sarung, pakai peci, namun orang2 yang ngaji salaf ini cuma bermodalkan pantalon dan baju, bahkan kadang2 cuma pake kaos dan mereka enjoy dengan keadaan ini. Allaahu musta’an..Padahal mereka juga belajar fikih, belajar Umdatul Ahkam, Al Wajiz, Bulughul Marom, dll..
Padahal Ummu Salamah menyatakan: “Baju yang paling disukai oleh Rasulullaah adalah baju Gamis”.Ana dulu teringat waktu awal2 ngaji di Masjid Al Hasanah. Celana masih dilipat dan pake kemeja. Sedangkan para ikhwah disana, masya Allaah, pake gamis, jubah, sarung, dan bahkan pake surban. Sedikit demi sedikit ana mulai terbawa. Pake sarung, celana langsung dipotong, terus lama kelamaan beli gamis, dan alhamdulillaah sampai sekarang masih ada walaupun dah mulai sobek2..he3x, dan membisakan diri pake sirwal ketika diluar waktu kerja. Dan ketika ikut kajian di Tangerang atau di I’tishom jakarta, pemandangannya pun sama seperti di Jogja. Ikhwah2nya pakai gamis, jubah, sarung, surban..Wal Hamdulillaah..Kalo ada yang pake pantalon, mungkin saja dia orang yang baru ngaji..
Segitunya… “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” kata buku kuno.
Kebencian mendalam terhadap manusia ciptaan Tuhan yang lainnya hanya bisa muncul dari hati yang penuh dengan benci. Dan kebencian, hanya mungkin muncul dari bapa segala kebencian. Siapakah ia? Auk ah elap.
@abu fathimah
jazakumullahu khairan katsiiraa atas nasehatnya, semoga berfaedah dalam hidup ana.
memang tasyabbuh nggak cuma dalam nama, tapi karena artikel ini sedang menyoroti masalah nama yang meniru nama kuffar, maka ana angkat. Adapun di dalam hal tasyabbuh ada segudang hal lain yang masuk ke dalamnya. Wallahu a’lam
Ass, semoga semuanya tercapai. Afwan Akhi, saya mulai ngeblog baru baru ini, saya jadi tergagum dg tulisan Antum. Semoga Antum bisa memberikan Saya motivasi untuk selalu bisa menulis. Thanks, salam ukhuwah,,
Assalamualaikum.
Kaifa haluk ya akhi??
Salam Ukhuwa nihh dari Makassar
Jazakallah khaer
kalau mau hanif, korbankan harta, diri, dan waktumu sendiri (yang diamanahkan Allah ta’ala) di jalan Allah.
@if
jazakallah khair atas nasehatnya.